Model Penataan PKL Berbasis Stake Holders: Studi Kasus Jalan Kaliurang

1. Latar Belakang

Keberadaan PKL merupakan sarana untuk membangkitkan ekonomi kerakyatan, karena secara sosial politis, fungsi sektor usaha informal sangat diperlukan dalam hal penyerapan tenaga kerja yang dapat mendukung usaha pengentasan kemiskinan (Prananingtyas, 2001). Sektor informal perkotaan merupakan bagian dari masyarakat marginal dan jumlah mereka cenderung bertambah dari tahun ke tahun. Sehingga pendekatan penataan bagi PKL di perkotaan perlu difokuskan terhadap sektor informal dalam menuju pola penyusunan secara konstrukstif perkembangan sektor informal (Nesvåg, 2000). Dari hasil data survey lapangan terdapat sejumlah permasalahan pokok yaitu mengenai lokasi PKL, bangunan dan sarana prasarana PKL. Selanjutnya analisis akan ditujukan pada arah penataan PKL jalan Kaliurang untuk mencoba memberikan arah alternatif  bagi penataan PKL yang berhubungan dengan masalah lokasi, bangunan dan sarana prasarana PKL di kawasan tumbuh cepat Kabupaten Sleman. Arah penataan PKL dinegara maju relatif sudah terintegrasi dengan penataan tata ruang kota. Sehingga untuk memperoleh arah penataan PKL perlu melihat alternatif penempatan lokasi PKL di negara tetangga, Singapura dan Austrlia, dengan langkah penyesuaian lebih lanjut berdasar karakter dan kondisi lingkungan di Jl. Kaliurang.

Titik-titik rawan lalu-lintas di Jalan Kaliurang adalah UGM, Selokan Mataram-Ringroad, Pasar Colombo dan Seminari, Banteng (PLN) dan di UII. Namun di Pemda sendiri cenderung untuk tidak melakukan relokasi PKL. Karena dengan bukti yang sudah ada dapat dilihat ternyata kurang membuahkan hasil yang maksimal atau justru menimbulkan konflik dengan mereka. Kalau kita lihat pun, para PKL itu sendiri mungkin banyak yang berasal dari luar daerah, bukan masyarakat setempat/lokal. Pemda sudah jenuh dengan alternatif tersebut oleh karena itu akan lebih konsentrasi dengan penyusunan Perda pengaturan saja (Bagian Perekonomian Pemda Sleman, 2007).

Pernyataan Cross (2000) yang mengatakan pemahaman para PKL tentang ”kecocokan” penggunaan ruang publik di kawasan perkotaan berbeda dengan pihak pemerintah atau masyarakat lainnya. Para PKL berada dijalanan karena pihak perencana kota kurang memperhatikan keberadaan mereka yaitu tidak adanya tempat bagi para PKL untuk berjualan di ruang publik. Sedangkan diberbagai daerah atau negara maju, pemerintah lokal dan perencana kota mereka memikirkan tempat bagi para PKL untuk berdgang seperti pada Gambar 1.

 

 

a

 

b

 

c

 

d

 

e

 

f

 

g

 

h

Gambar 1. Beberapa Foto Penempatan PKL di Melbourne dan Singapura

  1. PKL di trotoar (lebar 8 meter) berlokasi didepan pertokoan Swanson Street, Melbourne.

PKL buah dan koran berdampingan dalam satu blok. Panjang trotoar per blok = 200 m

  1. PKL taman (Newton Food Centre) di lingkungan perkantoran dan perumahan, Singapura
  2. PKL (makanan) di halaman antara pertokoan berlokasi Qlarck Quay, Singapura
  3. PKL (souvenir) di halaman antara pertokoan berlokasi Qlarck Quay, Singapura
  4. PKL (es, minuman, bunga dsb) berada di plasa Kampung Bugis (pedagangan), Singapura
  5. Kelompok PKL (pakaian, tas, dan souvenir) berada di jalan (tertutup) diantara 2 blok bangunan, di Kampung Bugis (kawasan perdagnagan) – Singapura
  6. Kantong PKL di Adam Street – kawasan perkantoran dan permukiman, Singapura
  7. PKL di trotoar (lebar 8 meter) berlokasi di Orchid Street, Singapura. Setiap PKL berjarak setiap 50 meter pada siang dan malam hari.
 

 

a. PKL Taman di Singapura

 

b. PKL diantara Pertokoan di Singapura

 

 

c. PKL di trotoar (8 m), Orchid Street, Singapura

 

d. PKL di trotoar (8 m), Swanson Street, Melbourne

Gambar 2. Beberapa skema Penempatan PKL di Singapura dan Melbourne

Catatan:

  1. Kantong PKL berada di lingkungan jalan dan pertamanan kota
  2. Kantong PKL pada area pedestrian diantara 2 pertokoan. PKL semacam ini bisa bongkar pasang.
  3. PKL trotoar dengan jarak antar PKL disini adalah 50 meter. Sifat PKL movable
  1. Pola 2 PKL per blok dengan panjang trotoar 200 meter per blok, Sifat PKL permanen.

2. Analisis Lokasi

  1. Perda PKL dan Pengelolaan usaha informal

Hingga sekarang Perda PKL dan SK Bupati Sleman tentang pengelolaan usaha informal baru menentukan 3 lokasi PKL yaitu di Resto Mrican, PKL Los Manggung, dan PKL Condong Catur. Sehingga lokasi lain perlu diusulkan yang salah satunya melalui analisis lokasi pada penelitian ini.

  1. Amatan amatan karakter lokasi dan tempat usaha PKL di negara tetangga terdiri dari beberapa jenis yaitu:

(1)   Kantong PKL berada di lingkungan fasilitas umum

(2)   Kantong PKL pada area pedestrian atau jalan yang bisa dibuka dan ditutup

(3)   PKL trotoar dengan jarak tertentu dan bersifat movable atau bongkar pasang

  1. Kriteria yang didasarkan atas sifat lokasi dan tempat usaha PKL di lokasi penelitian.

Berdasar data PKL yang diperoleh di lapangan bahwa:

  • Pengguna atau konsumen terbanyak para PKL adalah mahasiswa (Tabel 1).
  • Jumlah mahasiswa terbanyak berada di Kabupaten Sleman (Tabel 2.)
  • PKL yang dibutuhkan terbanyak adalah pengolahan makanan
  • PKL lebih banyak beroperasi pada malam hari, terutama PKL jenis pengolahan makanan untuk pelayanan mahasiswa.

Tabel 1. Potensi PKL, Konsumen dan Wilayah Keramaian

KECAMATAN

PERGURUAN TINGGI

# MAHASISWA

WARUNG/TOKO

PKL

Mlati

9

Tidak ada data

1.170

158

Gamping

5

Tidak ada data

92

Depok

17

123.441

2.567

312

Ngaglik

5

1.736

1.015

141

Sumber: Bagian Perekonomian Kabupaten Sleman, 2004

Berdasar pada Tabel 1, bisa dikatakan bawa PKL menyukai daerah ramai termasuk adanya perguruan tinggi, fasilitas umum (termasuk lokasi dekat perumahan-pondokan dan fasilitas perdagangan). Disini juga diasumsikan bahwa banyak pondokan yang berada di perumahan atau permukiman di kawasan sekitar kampus atau perguruan tinggi. Sehingga kriteria lokasi PKL berdasar sifat PKL di lokasi penelitian adalah:

  • Lokasi di pinggir jalan
  • Lokasi dekat keramaian kampus
  • Lokasi dekat keramaian perumahan/pondokan
  • Lokasi dekat keramaian perdagangan dan jasa
  • Gangguan lalu lintas minimal

Sebagai catatan bahwa jenis PKL pengolahan makanan terutama untuk malam hari dan jenis PKL perdagangan dan jasa terutama untuk siang hari. Analisis lokasi dan tempat usaha PKL dapat dilihat pada Tabel 2. Dari analisis pada Tabel 2. dapat diperoleh hasil bahwa arah penataan PKL di kawasan perkotaan seperti jalan Kaliurang adalah:

  1. Lokasi PKL tetap di pinggir jalan dengan melakukan renovasi berbasis kesepakatan stakeholders atau pihak yang berkepentingan dengan PKL.
  2. Pembuatan kantong PKL dengan memanfaatkan sebagian lahan publik atau tanah kas desa
  3. Memanfaatkan halaman fasilitas perdagangan dan jasa, termasuk perkantoran atas ijin pemilik. Terutama fasilitas jasa perdagangan yang tidak buka pada malam hari (toko besi, cuci mobil, bengkel, dsb).

Untuk PKL baru dimasa mendatang perlu diarahkan penempatannya pada fasilitas umum baru yang potensial untuk memberikan keramaian seperti perumahan, fasilitas perdagangan dan jasa. Setiap pembangunan perumahan, fasilitas umum (perdagangan dan jasa) yang baru perlu menyediaaan lokasi bagi PKL untuk mereka agar dapat berjualan. Lokasi dan tempat usaha PKL pada fasum dan fasos tidak diberikan atau dijual, melainkan digunakan dengan cara disewa. Hal ini dilakukan untuk menampung jumlah PKL yang setiap tahunnya terus bertambah. Masyarakat PKL di Sleman telah membentuk organisasi yang menampung paguyuban-paguyuban PKL di berbagai lokasi.  Namun hingga sekarang belum semua masyarakat PKL mempunyai paguyuban. Sehingga para PKL yang sekarang ada sebaiknya membentuk paguyuban dan bergabung dengan PPKLS.

Sehingga para PKL yang baru akan diarahkan pada lokasi fasilitas umum yang berada di halaman atau dekat dengan tempat parkir fasilitas umum tersebut. Sebagai contoh:

  1. Lokasi perumahan dengan jumlah > 50 unit diwajibkan memberikan fasum dan fasos, maka PKL akan berada pada area fasum/fasos tersebut dengan cara sewa.
  2. Fasilitas umum perdagangan dan jasa, selain wajib menyediakan ruang parkir, maka sebagaian ruang parkir tersebut bisa disewakan bagi PKL.

Sebagian gagasan diatas telah ditindak lajuti Pemda Sleman sebagai peraturan tata bangunan dan lingkungan.

Tabel 2a. Analisis Lokasi dan Tempat Usaha PKL di Jalan Kaliurang

LOKASI

EKSISTING

JENIS PKL EKSISTING

USULAN LOKASI

KRITERIA LOKASI YANG DIPENUHI

1

2

3

1

2

3

1

2

3

4

Jl. Kaliurang – UGM

Jl. Kaliurang merupakan        jalan kolektor primer

v

v     v     v v v  
Jl. Kaliurang – Degolan

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  v v   v   v v v  
Jl. Kaliurang – PLN

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  v   v       v v  
Jl. Kaliurang – Seminari

(Jl kolektor primer)

  v   v       v v  
Jl. Kaliurang selainnya kategori diatas (PKL yang tersebar) v v v   v v   v v  

 

Tabel 2. Analisis Lokasi dan Tempat Usaha PKL di kawasan Tumbuh Cepat Kabupaten Sleman

LOKASI

EKSISTING

ALTERNATIF LOKASI DAN TEMPAT USAHA PKL YANG DITAWARKAN

 

Jl. Kaliurang – UGM

Jl. Kaliurang merupakan        jalan kolektor primer

  • PKL trotoar 1 sisi (barat) Jl. Kaliurang UGM dan PKL pinggir jalan pada jalan sebelah utara Pusat Bahasa dan FKG – UGM
  • Bangunan tenda bongkar pasang untuk PKL pengolahan makanan
  • Kios movable untuk PKL perdagangan dan jasa, termasuk PKL buah
  • Masalah parkir dapat dikurangi dari 2 sisi menjadi satu sisi
 
Jl. Kaliurang – Degolan

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  • Kantong PKL di kampus UII,  dengan bangunan semi permanen dan Kantong PKL si Kampus Akademi Perawat betesda dengan bangunan tenda
  • PKL halaman fasilitas perdagangan dan jasa sekitar kampus UII
  • Mengurangi masalah parkir pinggir jalan
 
Jl. Kaliurang – PLN

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  • PKL pinggir jalan sisi timur, sisi barat dikosongkan
  • PKL pengolahan makanan malam hari dan PKL perdagangan dan jasa pada siang hari
  • Pada sis timur jalan masih ada ruang parkir di bahu jalan selebar 3 m
 
Jl. Kaliurang – Seminari

(Jl kolektor primer)

  • PKL pinggir jalan di satu sisi barat, dan sisi timur dikosongkan
  • Masalah parkir bisa dikurangi
 
Jl. Kaliurang selainnya kategori diatas (PKL yang tersebar)
  • PKL halaman pada fasilitas perdagangan dan jasa di Jl. Kaliurang, Jl. Magelang,  Jl. Solo
  • PKL tenda bongkar pasang dan kios movable
  • Kantong PKL tepian sisi barat lapangan Gentan dengan bangunan semi permanen untuk PKL yang berlokasi di Jl. Kaliurang
  • Ruang parkir masuk halaman toko, show room, atau bengkel
 

Catatan:

  • Jenis tempat: 1. PKL trotoar, 2. PKL pinggir jalan,  3. PKL halaman
  • Usulan Lokasi: 1. Tetap, 2. Pindah, 3. Tetap dan pindah
  • Kriteria Lokasi: 1. Dekat kampus, 2. Dekat fasilitas perdagangan dan jasa, 3. Dekat dengan perumahan/permukiman/pondokan, 4. Dekat dengan perkantoran

 

Tabel 2c. Aspirasi Penataan PKL dari Pekalima Gama dan Kecamatan Mgaglik

Stakeholders

Aspirasi Penataan PKL

Paguyuban Pekalima gama
  • Sebagian PKL merasa kawatir keberadaannya jika Bookstore UGM dibuka
  • Pekalima gama menginginkan PKL mereka dijadikan wisata kuliner malam hari
  • Pekalima gama bersedia penataan melalui renovasi dengan lokasi tetap
Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kec. Ngaglik
  • Perlu penyediaan kantong PKL, namun paling tidak PK5 tidak sampai menggunakan badan jalan. Perlu pembinaan bagi PKL berhubungan dengan kesehatan dan perawatan lingkungan. Sebagai contoh, di lingkungan di UGM cukup memprihatinkan. Kondisi kebersihan trotoar dan jalan terkesan kotor. Beroperasinya PKL pada malam hari, maka harus ditekankan kepada mereka bahwa pada siang hari lapak harus dibersihkan sehinga tidak mengganggu aktivitas lalu lintas dan pejalan kaki.
  • Adanya potensi toko-toko/tempat usaha yang beraktifitas pada siang hari namun pada malam harinya nganggur, maka halaman mereka dapat dimanfaatkan oleh PKL malam hari. Dan sangat memungkinkan apabila pihak ke tiga menjadi fasilitator dalam melakukan perijinan dengan mengundang para pemilik toko tersebut, karena penggunaan halaman untuk ajang PKL perlu ijin pemilik tanah atau bangunan.
Camat Ngaglik Sesuai Perda, Kantong sudah ditunjuk oleh SK Bupati agar bisa di atur dan dipantau.  Kita bisa melakukan pemetaan dengan berkoordinasi dengan Dinas Trantib dan PolPP. Soal pemataan, dapat kita lakukan bersama antara pemerintah Kecamatan dengan DPPM. Dengan pemetaan tersebut kita dapat membuat sebuah usulan perencanaan yang disesuaikan dengan Perda. Penggalian Potensi Iklan/Sponsor rasanya dapat menjadi alternatif pengembangan PKL. Perencaan bangunan yang non permanen harus ditekankan dan  jangan sampai terjadi karena merasa aman kemudian para PKL melakukan pembangunan sendiri untuk dihuni permanen.

 

Tabel 2d. Aspirasi Penataan PKL dari Pemda Sleman,

Stakeholders

Aspirasi Penataan PKL

Dinas PolPP Konsep penataan PKL diberikan kepada PolPP dan konsep perijinan akan dilakukan oleh Pihak Kecamatan. Sebagai contoh:

  • Perda Pasal 2, PKL berada di belakang trotoar.
  • Boleh menempati fasilitas umum, namun harus koordinasi dengan Kecamatan.
  • Tidak boleh menempati dalam radius 50m dari persimpangan jalan.

 

Biro Hukum

 

Apakah mungkin PKL di Jl. kaliurang dibentuk organisasi PKL karena di dalam Juklak perda dinyatakan bahwa paguyuban mempunyai peranan dalam masalah penempatan.

 

Perekonomian Perlu evaluasi relokasi PKL Mrican, Manggung, dan Wisata Kuliner. PKL Mrican diserahkan Kantor Pasar dan  Wisata Kuliner banyak permasalahan. Biaya mahal Listrik 70.000 watt beban bisnis (mohon keringanan), Rp288 juta/tahun. Sarana prasarana harus ada seperti 60 buah merkuri yang harus di ganti setiap mati, dan sebagainya,  sehingga dalam setahun ini sudah menghabiskan Rp1.5m, sedangkan pendapatan Rp300jt/tahun.
Bappeda Di Jalan kaliurang dan jalan wates dan wirobrajan, dan beberapa daerah PKL, mereka berkeinginan mendapatkan pelatihan dan berkoperasi. Relokasi PKL perlu memperhatikan bahwa butuh waktu 2 tahun bagi PKL untuk mencari langganan/pasar pembeli.
Bappeda Untuk membatasi PKL adalah sulit. Pelaku PKL yang berhasil sebagian mereka melakukan pengkaderan agar anak turunnya menjadi PKL juga. PKL perlu dilembagakan., karena PKL merupakan peluang kerja, sedangkan melakukan penekanan thd PKL tidak mungkin karena kita belum menyiapkan lapangan kerja pengganti. Oleh karena itu PKL diperbolehkan tetapi tidak boleh mengganggu umum atau setidaknya diminimalisir.
Bappeda Pendirian koperasi bagi mereka, atau berbagai pelatihan untuk meningkatkan SDM PKL sangat baik. Kita dapat menggali kerjasama dengan DepKop. Menumbuhkan koperasi akan mempunyai banyak keuntungan baik kucuran dana pelatihan dan keuntungan lainnya. Namun pembentukan asosiasi perlu dilarang karena cenderung dimanfaatkan sebagai ajang monopoli salah satu pihak.
Bagian Perekonomian, Bappeda dan Kimpraswil
  • Masalah sarana dan prasarana pembuangan limbah harus diperhatikan. Biasanya limbah PKL masuk ke saluran yang menyebabkan penyumbatan dan kotornya kondisi lingkungan. Maka perlu sebuah kajian khusus tentang penangan lingkungan.
  • Diharapkan ada masukan-masukan dari pihak PKL itu sendiri, karena hal itu merupakan masalah fenomenologi tersendiri agar aspirasi mereka dapat terserap.
  • Perlu adanya sosialisasi hasil tata ruang terakhir ke desa-desa/daerah tumbuh cepat agar pembangunan di daerah tersebut sesuai seperti rencana.

 

 

 

3. Analisis Arsitektur

Analisis arsitektur atau bangunan PKL diarahkan bagi bentuk atau jenis bangunan yang sesuai dengan lokasi dan tempat usaha PKL yang telah diarahkan sesuai pada Tabel 3.

Tabel 3. Analisis bentuk Arsitektur PKL Pengolahan makanan

LOKASI

EKSISTING

ALTERNATIF LOKASI DEKAT DENGAN KERAMAIAN/ FAILITAS UMUM

ALTERNATIF

BANGUNAN SEMI PERMANEN

TENDA BONGKAR PASANG

PENGEMBANGAN PKL MOVABLE*)

Jl. Kaliurang – UGM

Jl. Lingua – UGM

  • PKL trotoar 1 sisi
  • PKL pinggir 1 sisi

V

V

V

Jl. Kaliurang – Degolan

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  • Kantong PKL kampus UII
  • Kantong PKL Pasar Degolan
  • PKL halaman fasum

V

V

V

V

V

Jl. Kaliurang – PLN

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  • PKL pinggir jalan 1 sisi dan masih sisa bahu jalan untuk parkir

V

V

Jl. Kaliurang – Seminari

(Jl kolektor primer)

  • PKL pinggir jalan 1 sisi

V

V

Jl. Kaliurang selainnya kategori diatas (PKL yang tersebar)
  • PKL halaman fasum
  • Kantong PKL lap.Gentan

 

V

V

V

*) Pengembangan PKL movable didasarkan atas potensi PKL yang memiliki kendaraan roda 2 atau 4 atau bagi para PKL yang layak untuk mengembangkan (lihat Gambar 7.3).

Paguyuban Pekalimagama sepakat untuk melakukan penataan melalui renovasi terutama wajah tenda yang lebih rapid an menarik untuk mendukung keinginan mereka agar Pekalimagama menjadi wisata kuliner. Kecenderungan Pekalima gama tidak akan mengalami banyaak perubahan untuk penataannya. Namun disatu pihak Pemda PKL Sleman akan mengatur bahwa PKL harus berada dibelakang trotoar. Untuk mengatasi hal demikian makan perlu adanya pertemuan kedua belah pihak. Karena dari hasilo pertemuan dengan Pemda (Bappeda, Perekonomiam, Biro Hukum, Kimpraswil, dan UII, terdapat  wacana bahwa PKL di Jakal UGM akan diarahkan dibelakang trotoar dengan menggunakan lahan 5 meter lebar untuk digunakaan sebagai PKL malam hari dan untuk parkir staff UGM pada siang hari. Lokasi penyimpanan lapak PKL perlu kesepakantan Pemda, Kecamatan, Desa/Kelurahan dan Dusun setempat. Kalau perlu lokasi lapak juga mendapat persetujuan warga melalui RT/RW.

Tabel 7.4. Pengembangan bentuk Kios Movable untuk PKL Perdagangan dan Jasa

Lokasi

eksisting

Jenis PKL

Alternatif PKL Movable

Gerobak dorong

Gerobak Becak

Gerobak Motor

Gerobak Tosa

Jl. Kaliurang – UGM

Jl. Kaliurang – Degolan

Jl. Kaliurang – PLN

Jl. Kaliurang – Seminari

 

  • · Kios Majalah/koran
  • · Kios Stempel
  • · Kios Kunci
  • · Kios Plat nomor

 

V

V

V

V

V

V

V

V

V

V

V

V

V

Jarak PKL ke rumah          
200m – 999m  

O

O

K

K

1 km – 2,99 km  

O

O

K

K

3 km – 4,99 km  

K

O

O

O

5 km – 9,99 km  

K

K

O

O

> 10 km  

K

K

O

O

Catatan: O = optimal, K = kurang optimal

Sebagian PKL Pekalimagama (UGM) menitipkan gerobak dorong/angkringan tenda  di Jl. Kaliurang Km 5 yang berjarak 500m – 1 km dari lokasi PKL berdagang.

 

Tabel 4. menunjukkan alternatif pengembangan PKL kios yang tidak movable diarahkan menajdi movable untuk kemudahan pemindahan kios yang selama ini hanya ditinggal di trotoar atau pinggir jalan.

 

 

 
 

 

 

Gerobak Tempel Sepeda Motor untuk jenis PKL Stempel, Kelontong siang hari

 

Gerobak Tempel Sepeda Motor untuk jenis PKL Kelontong, Stempel Siang Hari

 

 

Gerobak Tempel Sepeda motor menempati Trotoar (Orchid Street, Singapura)

4. Analisis Struktur dan Utilitas PKL

4.1.  Analisis Struktur Bangunan PKL

Sifat bangunan tenda yang digunakan para PKL relatif mudah dibongkar dan dipasang, sehingga karakter ini bisa dipertahankan. Sifat dibongkar dan dipasang didukung oleh bahan konstruksi kayu, bambu, dan besi. Sebagian PKL menggunakan konstruksi campuran bambu dan kayu. Untuk penataan PKL Jl. Kaliurang perlu didengar aspirasi berbagai pihak terkait atau stake holders. Hasil wawancara dengan paguyuban PEKALIMAGAMA bahwa mereka secara bertahap akan membuat bangunan PKL dengan konstruksi besi dengan penampilan arsitektur sesuai kesepakatan mereka dan bersedia didiskusikan dengan pihak terkait, terutama Pemda Sleman.

Tabel 5. Analisis Struktur Bangunan PKL

LOKASI

EKSISTING

ALTERNATIF LOKASI DEKAT DENGAN KERAMAIAN/ FAILITAS UMUM

ALTERNATIF KONSTRUKSI

BAMBU

KAYU

BESI

KAYU+BAMBU

Jl. Kaliurang – UGM

Jl. Lingua – UGM

  • PKL trotoar 1 sisi
  • PKL pinggir 1 sisi

V

V

V

V

Jl. Kaliurang – Degolan

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  • Kantong PKL kampus UII
  • Kantong PKL Pasar Degolan
  • PKL halaman fasum

V

V

V

V

Jl. Kaliurang – PLN

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  • PKL pinggir jalan 1 sisi dan masih sisa bahu jalan untuk parkir

V

V

V

Jl. Kaliurang – Seminari

(Jl kolektor primer)

  • PKL pinggir jalan 1 sisi

V

V

Jl. Kaliurang selainnya kategori diatas (PKL yang tersebar)
  • PKL halaman fasum
  • Kantong PKL lap.Gentan

 

V

V

Catatan:

1. Untuk PKL yang berkelompok, jenis konstruksi bangunan PKL diarahkan berderet 3-5 dengan jenis konstruksi yang sama dan dengan jenis dan warna tenda/penutup atap yang sama untuk menciptakan keteraturan.

4.2. Konsep Utilitas

Penataan PKL berupa kantong PKL lebih bersifat permanen, sedangkan penataan PKL dipinggir jalan bersifat sementara. Berdasarkan kondisi tersebut maka masalah utilitas perlu mempertimbangkan sifat permanen dan sifat sementara tersebut. Adapun konsep penataan PKL dapat dilihat pada Tabel 6 dan 7.

 

Tabel 6. Analisis Air Bersih dan Air Kotor

LOKASI

EKSISTING

ALTERNATIF LOKASI DEKAT DENGAN KERAMAIAN/ FAILITAS UMUM

AIR BERSIH

AIR KOTOR TANPA SAMPAH

Jl. Kaliurang – UGM

Jl. Lingua – UGM

  • PKL trotoar 1 sisi
  • PKL pinggir 1 sisi
  • Bawa
  • Bawa
  • Dibuang diselokan
Jl. Kaliurang – Degolan

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  • Kantong PKL kampus UII
  • Kantong PKL Pasar Degolan
  • PKL halaman fasum
  • Bawa
  • Kerjasama dengan Pasar
  • Kerjasama dengan Fasum
  • Buat sumur peresapan
  • Buat sumur peresapan
  • Dibuang di selokan
Jl. Kaliurang – PLN

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  • PKL pinggir jalan 1 sisi dan masih sisa bahu jalan untuk parkir
  • Bawa
  • Dibuang diselokan
Jl. Kaliurang – Seminari

(Jl kolektor primer)

  • PKL pinggir jalan 1 sisi
  • Bawa
  • Dibuang diselokan
Jl. Kaliurang selainnya kategori diatas (PKL yang tersebar)
  • PKL halaman fasum
  • Kantong PKL lap.Gentan

 

  • Kerjasama dengan fasum
  • Dibuat jaringan
  • Dibuang diselokan
  • Dibuat sumur peresapan

 

Perlu ditetapkan jmodel penataan PKL terlebih dahulu. Sebagai contoh, jika penataan PKL di jalan kaliurang UGM bahwa PKL non-permanen menempati satu sisi trotoar maka saluran listrik dan air dibangun permanen pada salah satu sisi. Alternatif lain adalah, sebagian lahan sisi barat trotoar dibuka 5 meter untuk PKL siang dan pada malam hari untuk parkir UGM, sehingga utilitas air dan listrik akan berdasar pada penataan ini.

Tabel 7. Analisis Listrik dan Sampah

LOKASI

EKSISTING

ALTERNATIF LOKASI DEKAT DENGAN KERAMAIAN/ FAILITAS UMUM

LISTRIK

PEMBUANGAN SAMPAH

Jl. Kaliurang – UGM

Jl. Lingua – UGM

  • PKL trotoar 1 sisi
  • PKL pinggir 1 sisi
  • Kerjasama PLN atau Disel PKL
  • Bawa pulang
  • Bawa pulang
Jl. Kaliurang – Degolan

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  • Kantong PKL kampus UII Besi
  • Kantong PKL Pasar Degolan
  • PKL halaman fasum
  • Kerjama dengan UII
  • Kerjasama PLN atau Disel PKL
  • Kerjasama dengan fasum
  • Tempat sampah (dibuat)
  • Tempat sampah (dibuat)
  • Bawa pulang
Jl. Kaliurang – PLN

Jl. Kaliurang merupakan jalan kolektor primer

  • PKL pinggir jalan 1 sisi dan masih sisa bahu jalan untuk parkir
  • Kerjasama Disel PKL
  • Bawa pulang
Jl. Kaliurang – Seminari

(Jl kolektor primer)

  • PKL pinggir jalan 1 sisi
  • Kerjasama disel PKL
  • Bawa pulang
Jl. Kaliurang selainnya kategori diatas (PKL yang tersebar)
  • PKL halaman fasum
  • Kantong PKL lap.Gentan

 

  • Kerjasama dengan fasum
  • Kerjasama dengan PLN atau Disel PKL
  • Bawa pulang
  • Tempat sampah (dibuat)
 

 

Sebagai catatan, sampah dari PKL dibuang di tempat sampah umum (ditentukan lokasinya) atau diberikan pada peternaj babi untuk diambil sendiri. Alternatif lain jika penataan fisik telah disepakati, maka tempat sampah harus dibangun pada lokasi penataan tersebut.

 

4.3. Konsep Trotoar berbasis PKL dan Pejalan Kaki

Trotora diperuntukan bagi pejalan kaki, namun lebar trotoar selama ini tidak didasarkan atas fungsi yang sebenarnya, sehingga pemanfaatannya dilakukan secara informal oleh PKL. Analisis yang diperlukan adalah lebar trotoar berbasis kegitan (pejalan kaki) dan kemungkinan pemanfaatannya bagi PKL.

Tabel 8. Jumlah dan Tanggapan Pejalan Kaki Pengguna Trotoar

Lokasi

Jam

Jumlah

Tanggapan Pejalan Kaki Terhadap Posisi PKL di Trotoar

Sisi Barat Jl. Kaliurang Km 4 UGM 12.00–13.00

42

  • Menurut saya PKL di trotoar ini tidak terlalu mengganggu pejalan kaki karena jarak mereka yang berjauhan satu sama lainnya, jadi tidak terlalu berpengaruh. Cuma kalau bisa ya jangan memakan semua (lebar) trotoar, sisakan sedikitlah buat tempat lalu lalang pejalan kaki”.
  • Menurut saya posisi PKL di trotoar ini sangat mengganggu apalagi saat siang begini. Karena banyak lokasi yang rimbun/ teduh dipakai mereka untuk berdagang, sehingga jika ingin menunggu angkutan kita di paksa ber panas-panasan.”
Sisi Barat Jl. Kaliurang Km 4 UGM 18.00–19.00

35

  • Sangat mengganggu dan membahayakan nyawa pejalan kaki. Lahan parkir mereka yang mengambil badan jalan juga membuat pejalan kaki harus mengambil agak ketengah jalan untuk lalu lalang. Di tambah kondisi lalulintas malam yang semrawut membuat kita yang jalan ini mesti extra hati hati agar tidak di serempet motor

Sumber: Data Primer, 4 September 2005

Sejumlah dasar pertimbangan pemanfaatan trotoar untuk pejalan kaki dan PKL adalah:

  1. Trotal sangat penting bagi pejalan kaki dan trotal penting bagi PKL selama pemerintah tidak bisa memberikan alternatif tata ruang yang strategis bagi usaha PKL.
  2. Lebar trotoar di perkotaan negara menampung pejalan kaki dan PKL
  3. Lebar trotoar di kawasan sleman kurang mempertimbangkan jumlah pejalan kaki dan cenderung berlebihan sehingga dimanfaatakan oleh PKL
  4. Renovasi lebar trotoar (menjadi sekitar 1 meter) di jalan Affandi sekitar hotel Jogja Plaza cukup baik untuk menghindari berdirinya PKL

 

Tabel 9. Analisis Lebar Trotoar untu pejalan kaki dan PKL di Jalan Kolektor Primer untuk Jalan Kaliurang berbasis jenis kegiatan tepi jalan

Jenis Kegiatan Jalan (Tata Guna lahan)

Trotoar 1

Trotoar 2

Trotoar

Trotoar 4

Jenis Tenda

Tanpa PKL & Satu PJK

Tanpa PKL & dua PJK

PKL dan satu PJK

PKL dan dua PJK

Komersial

90 cm

120  – 150 cm

290 cm

320 – 350 cm

Terbuka

Non Komersial

60 cm

120  – 150 cm

260 cm

320 – 350 cm

Terbuka/Tertutup

Sawah dan RTH

60 cm

120  – 150 cm

260 cm

320 – 350 cm

Terbuka/Tertutup

Catatan 1. Neufert Architect Data:

  • Lebar tubu manusia = 60 cm
  • Satu pejalan kaki = 90 cm
  • Dua orang pejalan kaki berpapasan = 150 cm

Catatan 2:

  • Pejalan Kaki (PJK)
  • Tenda Terbuka = tenda tanpa tutup dinding plastik/kain
  • Tenda Tertutup = tenda dengan penutup dinding kain/plastik

 

5. Kesimpulan dan Rekomendasi:

a        Kesimpulan

  • PKL cenderung akan tetap menempati lokasi yang telah ditempati dan penataan yang akan dilakukan adalah cara renovasi melalui perbaikan model tenda mereka.
  • Pemda akan mengarahkan lokasi PKL dibelakang trotoar dan berjarak 500 meter dari persimpangan jalan (pertigaan/perempatan) terutama persimpangan yang memiliki rambu lalu lintas.
  • Sebagian suara staf Pemda menyampaiakn bahwa PKL sebagiknya berada di kantong PKL yang strategis atau tidak berada di badan jalan.
  • Dari ke 3 masalah diatas maka perlu adanya pertemuan antar stakeholders atau pihak yang berkepentingan terhadap keberadaan PKL.
  • Asumsi PKL ditetapkan dibelakan trotoar dalam draft Perda PKL karena selama ini trotoar hanya memiliki lebar 2 meter, dimana lebar trotoar tersebut habis digunakan tenda PKL.
  • Jika pada jalan Kaliurang Km 5 s/d Km 15 tidak memiliki trotoar maka harus dibangun trotoar sesuai kelas jalannya yaitu Jalan Kolektor Primer.
  • Pada penelitian ini Jl. Kaliurang Km 5 s/d KM 15 dibagi menjadi 5 segmen yaitu:

–          Segmen 1: BNI 46 – Selokan Mataran

–          Segmen 2: Selokan Mataran – Ringroad

–          Segmen 3: Ring-Road – Jembatan Mekar

–          Segmen 4: Jembatan Mekar – Jembatan Radio Trijaya

–          Segmen 5: Jembatan Radio Trijaya – Pasar Ngaglik

–          Segmen 6: Pasar Ngaglik – Jembatan Besi

–          Segmen 7: Jembatan Besi – Pasar Degolan

  1. Rekomendasi 1:

(1)   Jalan Kaliurang sebagai jalan kolektor primer perlu dibangun sesuai standar konstruksi jalan kolektor primer, yaitu dengan lebar tertentu dan memiliki trotoar sisi kiri dan kanan jalan.

(2)   Pada saat perencanaan jalan perlu dibarengi dengan perencanaan penataan PKL secara fisik dengan berbagai alternatif sesuai lokasi-lokasi banyak ditempat PKL

(3)   Karena aspirasi PKL Pekalimagama pada segmen 1 (Juni 2007) bahwa keberadaan PKL tetap dengan tambahan renovasi tenda maka Pemda Sleman perlu membuat skema atau gambar penataan PKL pada segmen 1 dan segera didiskusikan bersama mereka dan pihak terkait.

(4)   Perencanaan fisik PKL juga perlu dilakukan pada lokasi yang lain mulai segmen 1 s/d segmen 7, dengan asumsi bahwa PKL cenderung tetap untuk menempati lokasi mereka sehingga alternatif penataan lokasi perlu dilakukan berdasar draft Perda Baru dan diskusi dengan pihak PKL dan pihak terkait.

(5)   Pada saat Perencanaan Fisik dan Pembangunan Fisik Trotoar maka perlu dilakukan pula penataan sosial ekonomi PKL melalui pelatihan ketrampilan seperti koperasi, administrasi, cara masak sehat, kebersihan lingkungan, dsb.

(6)   Lebar Trotoar perlu dibangun sesuai kebutuhan lokasi dan kegiatannya yaitu trotoar untuk jalan kaki (satu orang berjalan, dua orang berpapasan,  dua orang  berjalan dsb.)

  • Lebar Trotoar untuk Satu orang berjalan: 90 cm
  • Lebar Trotoar untuk Dua orang berpapasan: 120 cm
  • Lebar Trotoar untuk Dua orang jalan bersama: 150 cm
  • Lebar Trotoar untuk PKL dan satu orang berjalan 290 cm
  • Lebar Trotoar untuk PKL dan dua orang berpapasan 320 cm
  • Lebar Trotoar untuk PKL dan 2 orang berjalan bersama 350 cm

(7)   Langkah penataan PKL dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Langkah Usulan Penataan PKL Jalan Kaliurang

Kegiatan

Waktu 1

Waktu 2

Waktu 3

Waktu 4

Waktu 5

Perencanaan Tata Ruang PKL dan Lebar Trotoar (Interview, Survey, Diskusi Drfat, dan Diskusi Final)

Y

Y

Pelaksanaan Pembangunan Fisik Trotoar dengan cara bertahap segment 1 hingga segmen 7

Y

Y

Pelatihan Koperasi, Administrasi dan Keuangan PKL, Cara Masak Sehat dan Lingkungan Sehat PKL

Y

Y

Renovasi Lapak dan Tenda PKL

Y

Y

Penempatan Fisk PKL (penempatan)

Y

Y

Evaluasi dan Pengendalian

Y

Y

Catatan:

  • setiap tahapan pembangunan fisik trotoar bisa sekaligus 2 hingga 3 segmen ruas jalan
  • diskusi dilakukan berdasarkan masing-masing ruas dan melibatkan stakeholders atau pihak terkait (masyarakat, komunitas PKL, Pemda, lembaga terkait, dan pamong praja setempat).
  • Unsur pamong praja setempat terutama desa dan dusun, serta melibatkan unsur RT/RW setempat
  • Focus Group Discussion mencakup perencanaan, pelaksanaan pembangunan, pemanfaatan, dan pengendalian

b. Rekomendasi:

Dasar Pertimbangan bahwa (1) masalah PKL adalah masalah makro atau masalah nasional bahwa hidup di desa yang berbasis pertanian tidak mampu memberikan kelayakan hidup, (2) perpindahan masyarakat desa ke kota memberikan tambahan permasalahan pengangguran, kemiskinan, lingkungan kumuh dan kemacetan lalu lintas, (3) tata ruang kota belum mampu memberikan wadah bagi sektor usaha informal perkotaan terutama PKL. Maka, pembangunan perdesaan berbasis pertanian harus diupayakan mampu memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat desa. Jika perlu dilakukan de-urbanisasi melalui perencanaan kawasan perdesaan yang lebih baik berbasis industri pertanian dan pengolahan hasil pertanian (Agropolitan). Pemda Sleman perlu mempelopori penambahan anggaran bagi perencanaan dan pembangunan kawasan pperdesaan untuk mengurangi urbanisasi menuju deurbanisasi dan agropolitan kawasan perdesaan.

Setiap pembangunan baru fasilitas sosial ekonomi (terutama diperkotaan) perlu membangun area parkir atau ruang terbuka hijau yang memerikan ruang/lahan untuk PKL. Hal inni diperlukan bagi pertumbuhan PKL diwaktu mendatang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: