Lansekap Jalan Kawasan Perkotaan berbasis Tanaman Bioreduktor Gas Buang Kendaraan Bermotor

Abstrak Yogyakarta merupakan kota sasaran untuk pelaksanaan urban air quality improvement program (UAQIP) selain Jakarta, Bandung, Surabaya dan Semarang. Sekitar 75% pencemaran udara perkotaan disebabkan oleh emisi as buang kendaraan bermotor. Hal ini terjadi karena kurang optimalnya usaha pemerintah dan masyarakat perkotaan dalam mengatasi meningkatnya jumlah kendaraan bermotor secara tidak terkendali yang berdampak pada meningkatnya emisi gas buang kendaraan bermotor di perkotaan. Polusi udara yang tinggi di pusat kota (dengan ciri kegiatan perdagangan, perkantoran, dan permukiman kota) tidak diimbangi dengan jumlah pepohonan yang memadai sebagai penyerap polusi dan panas udara, seperti hutan kota dan lansekap jalan. Paper ini akan memberikan kajian model penataan lansekap jalan berbasis tanaman bioreduktor gas buang kendaraan bermotor untuk membantu mengurangi beban pulusi udara di kawasan berkotaan. Lansekap kota merupakan salah satu indikator kemampuan pengelola kota dalam mewujudkan keseimbangan aspek fisik buatan dan alami yang menyatu dalam lingkungan perkotaan. Aspek fisik buatan adalah bangunan dan jalan, sedang aspek alami adalah flora fauna. Dengan terwujudnya model lansekap jalan berbasis bioreduktor akan berperan untuk mengurangi dampak pembangunan kota yang cenderung menghilangkan wajah alam melalui reduksi ruang terbuka dan jalur hijau perkotaan.

 

Kata Kunci : lansekap jalan, perkotaan, tanaman bioreduktor, gas buang, kendaraan bermotor

I.     Pendahuluan

Urbanisasi yang terus meningkat disebabkan oleh pertambahan penduduk diperkotaan maupun di perdesaan. Kondisi pertumbuhan penduduk diberbagai daerah di Indonesia menyebabkan urbanisasi yang didorong oleh masalah demografi di tingkat nasioanal.  Jumlah penduduk perkotaan di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup pesat.  Pada 1980 jumlah penduduk perkotaan baru mencapai 32,8 juta jiwa atau 22,3 persen dari total penduduk nasional.  Pada tahun 1990 angka tersebut meningkat menjadi 55,4 juta jiwa atau 30,9 persen, dan menjadi 90 juta jiwa atau 44 persen pada tahun 2002.  Angka tersebut diperkirakan akan mencapai 150 juta atau 60 persen dari total penduduk nasional pada tahun 2015 (Dardak, 2005). Angka pertambahan penduduk ini akan berdampak pada berbagai aktifitas di perkotaan maupun di perdesaan di Indonesia, termasuk di Yogyakarta.

Sebagai kota pendidikan dan pariwisata, Yogyakarta menjadi daya tarik bagi pelajar Indonesia dan wisatawan nasional maupun internasional. Pertumbuhan fungsi kota semacam ini juga menarik bagi pertumbuhan urbanisasi di wialay aglomerasi perkotaan Yogyakarta (APY). Berbagai aktifitas perkotaan seperti pendidikan, perdagangan, pariwisata dan permukiman di APY berkembang dengan dukungan fasilitas atau sarana prasarana transportasi umum yang kurang memadai. Sehingga para pekerja dan mahasiswa lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi yang menyebabkan mobilitas kendaraan pribadi terus bertambah dan keadaan ini menyebabkan peningkatan polusi udara di kawasan perkotaan Yogyakarta. Pencemaran juga disebabkan oleh kualitas bahwan bakar yang diperdagangkan di wilayah APY (Bappenas, 2006).

Kurang lebih 75% pencemar udara perkotaan disebabkan oleh emisi (gas buang) kendaraan bermotor, dimana jumlah dan pertumbuhan sepeda motor (roda 2) adalah tertinggi dibanding kendaraan bermotor lain seperti sedan (roda 4), bus, dan truk (roda 4 – 6). Adapun dampak dari semakin banyaknya jumlah kendaraan dan polusi udara  adalah 1) biaya kesehatan untuk mengatasi penyakit ISPA akan terus meningkat, 2) gas rumah kacayang memicu peningkatan pemanasan global, 3) gangguan terhadap lingkungan hidup (flora dan faona), dan 5) kerusakan lapisan ozon serta kerusakan infrastruktur fisik perkotaan (karena korosi logam). Berdasarkan permasalahan tersebut, pemerintah perkotaan Yogyakarta mengembakan strategi untuk meningkatkan kualitas udara melalui kegiatan (antara lain) 1) merasionalisasikan tata guna lahan perkotaan,  dan 2) meningkatkan perhatian masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian pencemaran udara (Bappenas, 2006).

Polusi udara yang tinggi di kawasan perkotaan yang tidak diimbangi dengan jumlah pepohonan yang memadai sebagai penyerap polusi dan panas udara, seperti hutan kota dan lansekap jalan, akan menurunkan kwalitas tata ruang dan lansekap kota. Salah satu cara untuk menurunkan/mengendalikan pencemaran udara adalah dengan meningkatkan jumlah pohon penyerap polusi udara kawasan perkotaan, termasuk  pada lansekap jalan. Paper ini akan memberikan kajian model penataan lansekap jalan berbasis tanaman bioreduktor gas buang kendaraan bermotor untuk membantu mengurangi beban pulusi udara di kawasan berkotaan. Analisis model lansekap jalan akan dilakukan dengan pendekatan persyaratan geometrik jalan menurut Letak Jalur Tanaman yang mencakup komponen (1)  Jalur tanaman tepi jalan, (2) Jalur tanaman tengah jalan atau median, (3) Jalur tanaman pada tikungan, baik pada pertigaan maupun perempatan jalan. Pemilihan tanaman bioreduktor pada tikungan perlu mempertimbangkan (a) bentuk tikungan daerah bebas samping, (b) pemilihan tanaman pada daerah tikungan. Analisis penempatan tanaman bioreduktor pada jalan persimpangan perlu mempertimbangkan (1) daerah bebas pandang di mulut persimpangan dan (2) pemilihan jenis tanaman pada persimpangan (Dirjen Bina Marga DPU, 1996). Dengan adanya peningkatan kwalitas lansekap jalan berbasis tanaman bioreduktor pencemaran udara dikawasan perkotaan, diharapkan kwalitas udara perkotaan akan semakin meningkat yang akan diikuti oleh peningkatan kwalitas lingkungan hidup.

 

II.      KAJIAN TANAMAN BIOREDUKTOR DAN LANSEKAP JALAN

Lansekap Jalan adalah wajah dari karakter lahan atau tapak yang terbentuk pada Iingkungan jalan, baik yang terbentuk dari elemen lansekap alamiah seperti bentuk topografi lahan yang mempunyai panorama yang indah, maupun yang terbentuk dari elemen lansekap buatan manusia yang disesuaikan dengan kondisi Iahannya. Lansekap jalan ini mempunyai ciri-ciri khas karena harus disesuaikan dengan persyaratan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama bagi kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan Iingkungan jalan yang indah, nyaman dan memenuhi fungsi keamanan (Dirjen Bina Marga – DPU, 1996).

Komunitas tanaman atau vegetasi pada lansekap jalan termasuk bagian dari hutan kota. Menurut Irwan (1994) dan Dardak (2005) bahwa hutan kota dikelompokkan menjadi tikelompok, yaitu a) Bergerombol atau menumpuk, yaitu hutan kota dengan komunitas vegetasinya terkonsentrasi pada suatu areal dengan jumlah vegetasinya minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat yang tidak bearturan; b. Menyebar, yaitu hutan kota yang tidak mempunyai pola tertentu, dengan komunitas vegetasinya tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau bergerombol kecil; c. Berbentuk jalur, yaitu komunitas vegetasinya tumbuh pada lahan yang berbentuk jalur lurus atau melengkung, mengikuti bentukan sungai, jalan, pantai, saluran, dan sebagainya.

Menurut Djamal (2005), hutan kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitar kota, berbentuk jalur, menyebar, atau bergerombol (menumpuk)  dengan struktur menyerupai hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa dan menimbulkan lingkungan sehat, nyaman, dan estetis. Ruang terbuka hijau (RTH) merupakan bagian dari hutan kota, maka komunitas tanaman lansekap jalan merupakan bagian dari RTH. Fungsi RTH atau hutan kota menurut Dardak (2005) terdiri dari tihal pokok yaitu fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi. Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah ruang yang dimaksudkan untuk konservasi air tanah, paru-paru kota, dan dapat menjadi tempat hidup dan berkembangnya plasma nutfah (flora fauna dan ekosistemnya). Ruang terbuka dengan perkerasan dan diberi pot tumbuhan tidak termasuk ruang terbuka hijau (Peraturan Pemerintah, 2003). Ruang Terbuka Hijau adalah ruang kota yang berfungsi sebagai kawasan hijau pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau kegiatan olah raga, kawasan hijau permakaman, kawasan hijau pertanian, kawasan hijau jalur hijau dan kawasan hijau perkarangan (Perda Kota Yogyakarta No 8 Th. 1997). Sehingga komunitas tanaman pada jalur atau lansekap jalan merupakan bagian dari RTH.

Bila kondisi antara tata ruang dan jaringan jalan dalam suatu wilayah tidak terintegrasi dengan baik, maka bisa dipastikan bahwa wilayah tersebut akan mengalami suatu kondisi yang tidak sehat dari sisi tatanan peruntukan lokasi dan pergerakan. Contoh kondisi tersebut seperti konsep permukiman yang tidak boleh dijadikan sebagai kawasan bisnis, banyak dijumpai lebar jalan lokal lebih besar dari jalan kolektor, menjamurnya pusat-pusat retail baru di sepanjang jalan arteri dan sebagainya. Bila kondisi seperti ini makin terakumulasi, maka pada gilirannya dapat dipastikan bahwa akan timbul suatu dampak yang sangat merugikan bagi masyarakat yang ada di dalamnya, seperti misalnya kemacetan lalu lintas, polusi udara, banjir, dan lain lain (Dardak, 2007).

Pepohonan sangat bagus di kawasan bisnis. Suatu hasil studi memcatat bahwa konsumen memberikan tanggapan positif pada lingkungan perbelanjaan yang memiliki hutan kota yang sehat. Di berbagai daerah, banyak kegiatan revitalisasi kawasan bisnis telah berusaha keras untuk menciptakan daya tarik lingkungan kota untuk kepentingan konsumen. Perlu diperhatikan bahwa tanaman merupakan komponen penting untuk program perbaikan kwalitas lingkungan kota. Departemen Kehutanan di Amerikan memberikan rekomendasi bahwa 15% kanopi pepohonan manaungi lingkungan perbelanjaan di kawasan kota dan kebanyakan lingkungan hanya memiliki kurang dari 5% kanopi pepohonan menaungi kawasan perbelanjaan  (Wolf, KL., 1988).

 

Tabel 1. Dampak Pencemar Udara terhadap Kesehatan

Pencemar Udara Dampak terhadap Kesehatan
  1. Karbo Monoksida

(CO)

  • Menghambat pembentukan haemoglobin dalam darah
  • Mengurangi kapasitas pengangkutan oksigen dan menyebabkan pasokan O2 ke organ vital menurun
  • Menimbulkan penyakit pada lambung/perut
  • Meningkatkan strees fiologis
  1. Sulfur Dioksida (SO2)
  • Meningkatkan iritasi pasda saluran pernafasan
  • Meningkatkan timbulnya penyakit pernafasan
  1. Timbal (Pb)
  • Merusak kecerdasan dan tingkat konsentrasi
  • Menghambat pertumbuhan bayi dan balita
  • Meningkatkan gangguan penyakit pada perut
  1. Nitrogen Oksida  (NO2)
  • Meningkatkan timbulnya penyakit asma
  • Meningkatkan iritasi pasda saluran pernafasan
  • Mempengaruhi kapasitas fungsi paru
  1. Ozon (O3)
  • Meningkatkan gangguan fungsi paru
  • Meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran pernafasan
  • Meningkatkan iritasi pada lender mata

Sumber: Bapedalda DIY, 2005

 

Beberapa jenis tanaman telah diketahui kemampuannya dalam menyerap dan menjerap polutan (lihat Tabel 2). Dewasa ini juga tengah diteliti  ketahanan dari beberapa jenis tanaman terhadap polutan yang dihasilkan oleh suatu pabrik. Dengan demikian informasi ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih jenis-jenis tanaman yang akan dikembangkan di kawasan industri (Teknik UMS, 2007). Sebagian tanaman juga telah diketahui mampu untuk mernyerap polusi udara dari kendaraan bermotor, sehingga tanaman tersebut akan dijadikan dasar pemilihan tanaman untuk lansekap jalan.

Sejumlah tanaman (bioreduktor) yang mampu menyerap polusi Pb atau timbal adalah akasia, angsana, asam jawan asam landi, bungur, cemara, flamoyan, glodogan, mahobi, kiara paying (Teknik UMS, 2007), beringin, tanjung, dan puring (Suparwoko, 2007). Sehingga tanaman bioreduktor tersebut dapat dijadikan dasar untuk penataan lansekap jalan perkotaan dari aspek lokasi pencemaran udara dan penempatan jenis tanaman.

 

Tabel  2. Rata-rata Konsentrasi Pb (µg/g) pada Kulit Batang dan Daun dari10 Jenis Tumbuhan Tepi Jalan di Jakarta

No  Jenis Tumbuhan

Tertinggi

Terendah

Daun Batang Daun Batang

1

Akasia

76,1

382,4

3,0

10,2

2

Angsana

321,7

843,5

1,1

0,2

3

Asam jawa

28,8

27,4

16,2

7,0

4

Asam landi

94,2

121,6

8,6

2,2

5

Bungur

99,0

521,4

7,6

5,4

6

Cemara

221,6

694,2

0

0

7

Flamboyan

56,2

347,7

10,6

10,6

8

Glodogan

72,2

526,4

0

0

9

Mahoni

249,1

213,7

0

0

10

Kiara payung

77,9

87,7

0

0

Sumber: Teknik UMS, 2007

 

Disampaikan oleh Soedradjad (2007) merekomendasi 1) tanaman penyerap timbal yang tinggi: damar, mahoni, jamuju, pala, asal landi, dan johar, 2) penyerap debu yang tinggi: mahono, bisbul, tanjung, meranti merah, kere payung, kayu hitam, dan 3) tanaman penyerap CO2: damar, daun kupu-kupu, lamtoro gung, akasia, dan beringin.

Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta telah mencanang­kan Program Langit Biru melalui Keputusan Gubernur No. 182/2003. Terkait dengan perhatian masyarakat, Program Langit Biru (Bapedalda DIY, 2004) menyatakan:

  • Semua pihak baik pemerintah, dunia usaha mau­pun masyarakat turut bertanggungjawab dan ber­peran dalam Program Langit Biru.
  • Program Langit Biru perlu disosialisasikan kepada semua pihak sehingga menjadi program milik pub­lik. Dengan demikian diharapkan di waktu yang akan datang peran dunia usaha dan masyarakat dapat lebih diandalkan serta memiliki peran penting dalam pelaksanaan pengendalian pencemaran udara.
Hari lingkungan hidup 5 Juni menanamkan prinsip: “ubah perilaku dan cegah pencemaran.” Sehingga perilaku penggunaan transportasi publik dan memperbanyak tanaman bioreduktor pencemar udara pada lansekap jalan perkotaan perlu ditingkatkan.

 

Kawasan hutan kota minimum 0,4 ha, jika berbentuk jalur  minimum 30 m lebarnya. Hutan kota meliputi taman, tepi jalan  jalan tol,  jalan kereta api, bangunan, lahan terbuka, kawasan padang rumput, kawasan luar kota, kawasan permukiman, kawasan perdagangan, dan  kawasan industri. Jalur hiaju  dengan lebar 183 m dapat mengurangi pencemaran udara sampai 75%  (Teknik UMS, 2007)

 

III.      KONDISI DAN PERMASALAHAN LANSEKAP JALAN DI PERKOTAAN YOGYAKARTA

Polusi udara merupakan salah satu masalah kesehatan yang sangat penting. Polusi udara ini berpotensi untuk mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat, antara lain dapat menimbulkan berbagai penyakit bahkan dapat menyebabkan kematian. Penyakit yang ditim­bulkan ini bergantung pada peningkatan jumlah bahan polutan yang terkandung di udara. Sedangkan mereka yang rentan terhadap dampak polusi udara adalah rnereka yang sangat muda, sangat tua atau mereka yang sebelurnnya memang telah rnenderita penyakit paru dan jantung. Berdasarkan data dari Dinas kesehatan Provinsi DIY, pola penyakit pasien yang diindikasikan sebagai dampak polusi udara mempunyai tingkat proporsi yang cukup tinggi terhadap total pola penyakit pasien. Menurut Profil Kesehatan Provinsi DI Yogyakarta 2004 proporsi infeksi akut pernafasan atas adalah 22%, penyakit lain saluran pernafasan atas 7,7% dan asma 2,2% (Bappenas, 2006).

Kendaraan bermotor merupakan penyebabpolusi udara tertinggi di kawasan perkotaan. Di DIY  tahun 2001 hingga 2007, jumlah kedaraan bermotor menunjukkan kenaikan yang signifikan (lihatTabel 1). Peningkatan juml;ah kendaraan yang berarti peningkatan jumlah polusi udara di Yogyakarta ternyata tidak diimbangi dengan pencegahan yang memdai atau pengurangan dampak yang memadai (misal jumlah pohon di pinnngir jalan untuk meyerap polusi gas buang kendaraan). Pada saat ini, pembangunan di wilayah APY dicer­minkan oleh adanya perkembangan fisik kota yang lebih banyak berupa sarana dan prasarana. Pemba­ngunan yang dilakukan cenderung meminimalkan jumlah ruang terbuka hijau. Lahan-Iahan terbuka hi­jau banyak dialihfungsikan menjadi kawasan perda­gangan, industri, permukiman, dan jaringan transpor­tasi (jalan, jembatan, terminal) (Bappenas, 2006).

Tabel 3. Jumlah Kendaraan Bermotor di DIY 2001 – 2007

2001

2003

2005

2007*)

Sepeda Motor

539.448

666.941

843.758

956.758

Mobil Penumpang

67.309

74.728

82.705

86.954

Mobil Beban

27.745

32.510

35.670

37.654

Bus

6.591

8.039

14.685

18.630

Sumber: Kompas, 31 Oktober 2007 halaman A – Yogyakarta

 

Dari total luas lahan di wilayah Aglomensi Perkotaan Yogyakarta (APY), lahan hijau yang ada terdiri dari 1.610,35 ha tegalan, 8.623,44 ha sawah, dan 1.255,76 ha kebun dan taman kota. Sebagian besar lahan yang terlihat hijau tersebut terletak di kawasan pinggiran Kota Yogyakarta. Sedangkan untuk pusat Kota Yogyakarta, lahan hijau dapat dijumpai di kebun-kebun pribadi, penghijauan di pinggir-pinggir jalan kota serta di taman-taman kota yang dikelola oleh Dinas Perta­manan. Hasil pengukuran TSP (debu) di kawasan perkotaan Yogyakarta di 15 titik sample (Jl. Wates, Jl. Diponegoro, Jl. Prambanan, Jl. Magelang Km.5, Jl. A. Dahlan, Jl. Sudirman, Jl. Godean, Jl. Parangtritis, Jl. Adisucipto Km. 5, Jl. Gedongkuning, Jl. Malioboro, Jl. Bantul dan Jl. Kaliurang) terdapat  6 lokasi yang melampaui ambang batas yaitu di Jl. Malioboro, Jl. Prambanan, Jl. Godean, Jl. A. Dahlan,  Jl. Adisucipto dan Jl. Wates. Pengukuran NO2, NO2, CO, dan Ozon,  di semua titik sample dibawah ambang batas. Sedangkan pengukuran PB (timbal) melampauai ambang batas  di 2 lokasi dari 15 lokasi, yaitu di Jl. A Dahlan dan Jl. Kaliurang (KLH dan KPBB, 2006).

Di. Jl. Kaliurang Km 5 dalam lingkungan perdagangan dan kampus, kandungan Pb dalam kategori sangat berbahaya.  Posisi tanaman pinggir jalan merupakan tanaman perindang yang berada di luar badan jalan dan diluar trotoar. Tanaman pada trotoar merupakan tanaman perdu (jenis puring). Jenis tanaman puring tersebut merupakan bio-reduktor  yang baik (lihat Tabel 3). Pada lokasi perumahan Kotabaru, kandungan Pb dalam kawasan tersebut mendekati ambang baku mutu atau masuk klasifikasi sangat berbahaya (lihat Tabel 4). Di lingkungan Kotabaru streetcape memiliki berbagai jenis pohon selain tanjung adalah pohon perdu sebagai kombinasi tata hijau tanaman sebagai tanaman kota. Sehingga sejumlah pohon yang beraneka jenis di lingkungan Kotabaru sangat berperan sebagai bio-reductor emisi kendaraan di lingkungan tersebut. Namun karena angka kandungan Pb kira-kira 75% dari angka baku mutu maka penambahan jumlah dan jenis pohon yang berfungsi sebagai bio-reductor sangat diperlukan (Suparwoko, 2007)

 

Tabel 4. Konsentrasi Pb dan Kondisi Lingkungan di Jl. Malioboro dan Jl. Kaliurang Km

A

Lokasi Malioboro

 

 

 

No

Parameter

Satuan

Baku Mutu

Hasil Pengujian

1

Jumlah kendaraan*

smp

1.220,29 u-s

2

Suhu udara

oC

36

3

Timbal (Pb) di Udara

µg/m3

60

68,24

4

Pb dalam Satu Daun Beringin

mg/L

1,025

B

Lokasi Jl. Kaliurang

 

 

 

No

Parameter

Satuan

Baku Mutu

Hasil Pengujian

1

Jumlah kendaraan*

smp

871.45 u-s

784.60 s-u

2

Suhu udara

oC

35

3

Timbal (Pb) di Udara

µg/m3

60

46,75

4

Pb dalam Satu Daun Puring

mg/L

2,05

Catatan: smp = satuan mobil penumpang

U – s = arus kendaraan dari utara ke selatan

S – u = arus kendaraan dari selatan ke utara

* Pengukuran dilakukan selama 12 jam (07.00-17.00 WIB):   arus kendaraan dua arah

Sumber : data primer tanggal 14 Maret 2007

 

Logam berat Pb merupakan polutan berbahaya. Dari keselurahan sampel penelitian tercatat bahwa semakin ke Pusat kota arus lalu lintas kendaraan semakin besar sehingga polusi udara sekain ke kota semakin tinggi. Namun semakin polusi udara tinggi ke arah pusat kota dengan ciri kegiatan perdagangan, tidak diimbangi dengan jumlah pepohonan rindang di kawasan perdagangan. Pepohonan penyerap Pb yang baik untuk lansekap jalan adalah bringin dan tanjung. Sedangkan pohon perdu yang baik untuk lansekap jalan adalah puring/. Pohon ketapang tidak baik untuk penyerap Pb, namun bentuk kanopi pohon ketapang sangat baik untuk ditanam di tempat parkir sebagai perindang. Jika pohon ketapang digunakan untuk perindang parkir kendaraan, maka untuk mengurangi Pb di lingkungan parkir tersebut perlu kombinasi tanaman puring (Suparwoko, 2007).

Survey hubungan antara tanaman dan kawasan bisnis diperkotaan dilakukan pada bulan April 2007 dengan jumlah responden sebanyak  50 orang yang terdiri dari masyarakat umum dan pemilik usaha atau pertokoan. Dalam survey tersebut diperoleh hasil bahwa sebagian besar hasil responden (90%) menyatakan menyetujui akan adanya penghijauan pada area district namun sebagian kecil (10%) juga menyatakan pendapat yang berbeda  (Suparwoko dan Suwarto, 2007).

Ketika para responden ditanya apakah mereka setuju bila di depan toko (pada kawasan perkotaan) ditanam pepohonan? Sejumlah sampel jawaban menarik adalah sebagai berikut:

1)       ” setuju, karena semakin banyak penghijauan akan semakin bagus (indah), selain untuk memperteduh/ mengurangi pemanasan global dan memperbaiki keadaan udara yang semakin hari tambah banyak polusi. “

2)       ” sangat setuju, kita bisa bayangkan apabila tiap toko ada pohonnya  maka akan berdampak pada pencegahan “global warming” dan mempebaiki paru-paru indonesia dan dunia umumnya, so please realized it!! “

3)       ” setuju banget, pohon bisa ngurangin polusi udara, sehingga jogja akan se makin nyaman dan tidak terasa panas lagi, dan otomatis wisatawan yang datang ke jogja merasa senang.”

Ketika sejumlah responden pemilik pertokoan diberi bertanyaan sbb.: Apabila trotoar di depan diperlebar hingga 6 meter maka lahan tersebut akan anda gunakan untuk apa? (dengan pilihan jawaban adalah: 1) pejalan kaki, 2) tempat parkir, 3) pepohonan, dan 4) lain-lain? Sejumlah jawaban antara lain sebagai berikut:

1) “pejalankaki, dan pepohonan, karena saya kurang setuju untuk lahan parkir selain tidak enak dilihat juga menganggu pejalan kaki “

2) ” yang seperlunya, yang jelas saling menguntungkan kalau di pandang dari provit lebih baik membuat tempat parkir, tapi dari segi keindahan membudayakan pepohonan “

3) ”pejalan kaki, karena sejak pertama fungsi dari trotoar adalah untuk pejalan kaki, bukan untuk yang lain “

Dari hasil survey tersebut bias diperoleh makna bahwa masyarakat menginginkan adanya penghaijauan pada kawasan kopersial atau perdagangan. Masyarakat berharap bahwa pepohonan di kawasan perdagangan dapat memberikan kenyamanan serta dapat mengatasi masalah  polusi serta membantu mengatasi fenomena “globlal warming”. Namun, perlu disadari bahwa masyarakat belum mengerti bagaimana cara mengelola perawatan  ttanaman di kawasan public tersebut. Masyarakat, menginginkan tata kota yang dapat mengelola tanaman perkotaan dan  melibatkan pihak terkait di perkotaan (terma pemilik pertokoan/ pengusaha, pengelola perkir, serta pejalan kaki) (Suparwoko dan Suwarto, 2007). .

IV.             ANALISIS MODEL LANSEKAP JALAN BERBASIS TANAMAN BIOREDUKTOR

Pengembangan dan penataan ruang terbuka hijau perlu dilakukan dengan pendekatan jangka pendek dan menengah panjang. Penataan jangka pendek adalah dengan cara refungsionalisasi dan pengamanan jalur-jalur hijau alami, seperti di sepanjang tepian jalan raya, jalan tol, bawah jalan layang (fly-over), bantaran kali, saluran teknis irigasi, tepian pantai, bantaran rel kereta api, jalur SUTET, Tempat Pemakaman Umum (TPU, makam), dan lapangan olah raga, dari okupasi permukiman liar. Mengisi dan memelihara taman- taman kota yang sudah ada, sebaik-baiknya dan berdasar pada prinsip fungsi pokok RTH (identifikasi dan keindahan) masing-masing lokasi. Memberikan ciri-ciri khusus pada tempat-tempat strategis, seperti batas- batas kota, dan alun-alun kota.  Memotivasi dan memberikan insentif secara material (subsidi) dan moral terhadap peran serta masyarakat dalam pengembangan dan pemeliharaan RTH secara optimal, baik melalui proses perencanaan kota, maupun gerakan-gerakan penghijauan. Penataan dan pengembangan RTH jangka menengah panjang yaitu melalui cara penyuluhan dengan partisipasi atau kerjasama pemerintah, industry, perguruan tinggi dan masyarakat (Teknik UMS, 2007)

Untuk menempatkan tanaman bioreduktor polusi udara perlu didasarkan atas jenis jalur jalan, jalur tanaman, dan jenis fungsi tanaman selain sebagai bioreduktor. Jalur Tanamanadalah jalur penempatan tanaman serta elemen lansekaplainnya yang terletak di dalam Daerah Milik Jalan (DAMIJA) maupun didalam Daerah Pengawasan Jalan (DAWASJA). Sering disebut jalur hijaukarena dominasi elemen Iansekapnya adalah tanaman yang pada umumnya berwarna hijau.Tanaman Peneduh adalah jenis tanaman berbentuk pohon dengan percabangan yang tingginya Iebih dari 2 meter dan dapat memberikan keteduhan dan menahan silau cahaya matahari bagi pejalan kaki. Tanaman Pengarah, Penahan dan Pemecah Angin adalah jenis tanamanyang berfungsi sebagai pengarah, penahan dan pemecah angin; dan dapatberbentuk pohon atau perdu yang diletakkan dengan suatu komposisimembentuk kelompok. Tanaman Pembatas, Pengarah dan Pembentuk Pandangan adalahjenis tanaman berbentuk pohon atau perdu yang berfungsi sebagai pembataspemandangan yang kurang baik, pengarah gerakan bagi pemakai jalanpada jalan yang berbelok atau menuju ke suatu tujuan tertentu, juga karenaletak dapat memberikan kesan yang berbeda sehingga dapat menghilangkan kejenuhan bagi pemakai jalan (Dirjen Bina Marga – DPU, 1996).

Tanaman Penyerap Polusi Udara dan Kebisingan adalah jenis tanaman berbentuk pohon atau perdu yang mempunyai massa daun yang padat dan dapat menyerap polusi udara akibat asap kendaraan bermotor dan dapat mengurangi kebisingan. Tanaman Konservasi Tanah adalah jenis tanaman berbentuk pohon, perdu/semak atau tanaman penutup tanah yang karena sistem perakarannya dapat berfungsi untuk mencegah erosi pada tanah berlereng. Tanaman Penutup adalah jenis tanaman penutup permukaan tanah yang bersifat selain mencegah erosi tanah juga dapat menyuburkan tanah yang kekurangan unsur hara. Biasanya merupakan tanaman antara bagi tanah yang kurang subur sebelum penanaman tanaman yang tetap (permanen) (Dirjen Bina Marga – DPU, 1996)

 

4.1. Pemilihan Tanaman Lansekap Jalan Perkotaam

Pemilihan tanaman lansekap jalan ditentukan oleh 1) Ketentuan untuk perletakan tanaman pada jalur tepi dan jalur tengah (median) disesuaikan dengan potongan melintang standar tergantung pada klasifikasi fungsi jalan yang bersangkutan, 2) Berdasarkan lingkungan di sekitar jalan yang direncanakan dan ketentuan ruang yang tersedia untuk penempatan tanaman lansekap jalan, maka untuk menentukan pemilihan jenis tanamannya ada 2 (dua) hal lain yang perlu diperhatikan yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya di kawasan perkotaan.

V.     Model lansekap jalan di kawasan perkotaan

(1)  Jalur tanaman tepi jalan,

(2) Jalur tanaman tengah jalan atau median,

(3) Jalur tanaman pada tikungan, baik pada pertigaan maupun perempatan jalan.

 

Pemilihan tanaman bioreduktor pada tikungan perlu mempertimbangkan

(a) bentuk tikungan daerah bebas samping,

(b) pemilihan tanaman pada daerah tikungan.

 

Analisis penempatan tanaman bioreduktor pada jalan persimpangan perlu mempertimbangkan

(1) daerah bebas pandang di mulut persimpangan dan

(2) pemilihan jenis tanaman pada persimpangan

Referensi

Bapedalda DIY, 2004, Kumpulan Peraturan Pencemaran Udara di Prov. DI Yogyakarta, Yogyakarta: Bapedalda

Bappenas, 2006, Strategi dan Rencana Aksi Lokal: Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta untuk Peningkatan Udara Perkotaan, Jakarta: PT. Gramedia

Dardak, A. Hermanto,  2007, INTEGRASI TATA RUANG DAN JARINGAN JALAN JABODETABEK, Dipresentasikan pada Forum Diskusi : Integrasi Sistem Infrastruktur DKI Jakarta dan Bodetabek Tanggal 27 November 2007, ENGINEERING CENTE UNIVERSITAS INDONESIA

Dirjen Bina Marga – DPU, 1996, TATA CARA PERENCANAAN TEKNIK LANSEKAP JALAN, Jakarta: Dirjen Bina Marga – DPU

KLH dan KPBB (Kementrian Lingkungan Hidup dan Komite Penghapusan Bensin Bertimbal), 2006, Laporan Pemantauan Kualitas Bahan Bakar 2006,” Jakarta: KLH dan KPBB

Soedradjad, 2007, Hutan Kota, diakses 20 september 2007 dari http://elearning.unej.ac.id/course/pna230/document/bab-6/hutan_kota.pdf?cidreq+pna230

Suparwoko dan Suwarto, D M., 2007, Trees and Business District, FTSP UII: Seminar Mata Kuliah Rencana Bagian Wilayah Kota.

Suparwoko, 2007, Kajian Bioreductor Cemaran Logam Berat Timbal (Pb) pada Tanaman Lansekap Jalan (Streetscape) di Kawasan Perkotaan Yogyakarta, Prosiding Seminar Nasional: Pembangunan Lingkungan Perkotaan di Indonesia, FALTL, USAKTI, Jakarta: 27 November 2007

Teknik UMS, 2007, Bab V Hutan Kota, diakses tanggal 30 Mei 2008 dari

http://teknik.ums.ac.id/kuliah/ruhiko/file/A5-PDF-FINAL%20buku%20teks%20ruhiko%20DIM/Fin%20A5-bab%205%20Hutan%20Kota-23%20okt.pdf

Wolf, KL., 1988, Trees in Business Districts: Positive Effects on Consumer Behavior!, Human Dimensions of the Urban Forest – Factsheet  No. 5, Washington:Center for Urban Horticulture, University of Washington

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: