KOTA NYAMAN BAGI KORUPTOR

Orang yang melakukan kesalahan biasanya berwajah sedih atau malu jika tampil dimuka umum. Namun di kota-kota kita, ketika kita melihat liputan televisi tentang para tersangka koruptor, maka wajah-wajah mereka kebanyakan tenang, tersenyum, dan merasa terhormat. Bahkan ada diantara mereka yang dengan ringannya melambaikan tangan……terus terang ini mengerikan. Hanya satu tersangka yang nampak terlihat sedih dan bahkan menangis, yaitu Mindo Rosa Manulang. Timbul pertanyaan besar, apakah mereka yang tersangka korupsi sudah tidak punya malu?…..tidak punya hati nurani? Apakah hanya sedikit saja orang di kota-kota kita yang masih punya rasa malu?

Pertanyaan berikutnya, apakah kondisi kota-kota di Indonesia bisa mewakili protret kota-kota yang nyaman bagi para koruptor? Baru saja TH, kepala seksi di kantor pajak kota Sidoarjo, tertangkap tangan oleh KPK di restoran padang wilayah Tebet, Jakarta. Nampak di layar TV wajahnya tenang tanpa rasa malu, tidak ada upaya pelaku untuk menutup mukanya. Hal ini mengingatkan kita akan wajah Gayus Tambunan, ketika diwawancarai para wartawan nampak dia begitu tenang dan tersenyum (pede banget). Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa mereka para tersangka koruptor rata-rata masih berusia muda. Inikah generasi Indonesia kita? Dimana rasa malu mereka?

Dikawasan perkotaan, tindakan korupsi tidak hanya berlaku bagi orang berpangkat atau pejabat tinggi. Diwilayah perkotaan tindakan korupsi terjadi diberbagai tingkat masyarakat baik formal maupun informal. Sebagai contoh, (1)  Anggaran Pembangunan Dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta sangat rawan di korupsi di tingkat kelurahan (www.berdikarionline.com, 20/2/2012), (2) Berbelitnya proses perizinan, pembuatan KTP, SIM, pengurusan imigrasi, atau bahkan pungutan liar yang dilakukan para polisi di jalanan yang dilalui oleh kendaraan bisnis, atau transaksi soal pelanggaran lalu lintas oleh masyarakat di perkotaan.

Tidak kalah juga korupsi di sektor informal perkotaan. Sebagai contoh, (1) para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan disepanjang ruas jalan depan Pasar Samarinda kota Batam pada setiap hari dimintai pungutan liar oleh oknum sekuriti yang mengatasnamakan manajemen Pasar (BAKINNews, 19 Mei 2012), (2) para PKL pun merupakan pelaku korupsi juga, karena mereka menggunakan ruang jalan atau trotoar tanpa ijin dimana ruang manfaat jalan tersebut digunakan para PKL yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan (UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan). Wajah kota-kota di Indonesia yang menjamur PKL adalah wajah kota koruptor di sektor informal. Sedangkan tindakan para pejabat pemerintah termasuk anggota DPR yang banyak terjadi diberbagai kota di Indonesia merupakan wajah formal kota-kota yang nyaman bagi para koruptor .

Wajah kota-kota diatas memberikan informasi bahwa kota-kota kita merupakan kota-kota yang ramah bagi para koruptor. Sekalipun hasil survey Transparency International Indonesia memberikan penilaian Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Kota Denpasar dengan skor atau nilai paling tinggi (6,71) dan Jakarta (4,43) dinilaia rendah (lihat Tabel 1), namun Transparensi International (TI) secara global  menyebutkan Indonesia memperoleh skor CPI (Corruption Perception Index)  sebesar 3,0 di tahun 2011 dan menempatkan Indonesia di urutan no 100 dari 183 negara di dunia yang disurvei. Sekalipun lembaga Transparency Internasional di Indonesia menilai kota kita dengan rata—rata nilai diatas 3,0 namun secara umum bahwa Indonesia dan kota-kota kita masih dinilai buruk dalam soal korupsi karena skor tersebut masih jauh dari skor yang diraih kota Singapura yang memiliki nilai CPI 9,2 dimana Singapura berada rangking 5 negara yang bersih dari korupsi. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tolok ukur TI dunia dan TI Indonesia ada perbedaan, dimana indeks kota yang nyaman juga memberikan indeks korupsi yang besar pula. Hal ini tidak terjadi di kota-kota Indonesia.

Tabel 1. Rangking Kota Nyaman Huni dan Indeks Persepsi Korupsi

Kota

Indeks Kota Nyaman Huni (maksimum 100)

Indeks Presepsi Korupsi (maksimum 10)

Yogyakarta

66,52

5,81

Denpasar

63,63

6,71

Makasar

58,46

3,97

Menado

56,39

5,35

Surabaya

56,38

3,94

Semarang

54,63

5,00

Banjarmasim

53,16

5,20

Batam

52,60

4,73

Jayapura

52,56

4,33

Bandung

52,32

5,04

Palembang

52,15

4,70

Palangkaraya

50,86

5,03

Jakarta

50,71

4,43

Pontianak

46,92

4,52

Medan

46,67

4,17

Sumber: IAP, 2011 dan TI-Indonesia, 2010 – diolah

Wajar jika kota-kota kita merupakan kota-kota yang NYAMAN bagi para koruptor. Coba kita lihat penilaian kota-kota di Indonesia berdasarkan aspek KOTA NYAMAN HUNI (Livable City) yang dicoba untuk dikaitkan dengan IPK kota-kota di Indonesia (lihat Tabel 1). Kota nyaman huni merupakan kota dimana masyarakat dapat hidup dengan nyaman dan tenang dalam suatu kota. Menurut Hahlweg (1997), kota yang nyaman huni adalah kota yang nyaman dalam menampung seluruh kegiatan masyarakat kota dan aman bagi seluruh masyarakat. Sedangkan Evan (2002), menyebutkan bahwa Livable City merupakan kota yang nyaman untuk mewujudkan gagasan pembangunan sebagai peningkatan dalam kualitas hidup membutuhkan fisik maupun habitat sosial untuk realisasinya.

Namun masih ada keterbatasan, bahwa penilaian kota nyaman huni oleh IAP (Ikatan Ahli Perencanaan) Indonesia yang didasarkan atas aspek-aspek yang belum memberikan bobot persepsi korupsi, yaitu seperti aspek ekonomi (bobot 27,97%), tata ruang (bobot 19,66%), fasilitas pendidikan (bobot 13,29%), keamanan (11,08%), dan kebersihan (10,80%). Pada  penilaian aspek keamanan dan kebersihan tidak mencakup keamanan dan kebersihan yang bebas dari korupsi. Sedangkan aspek ekonomi, tata ruang dan fasilitas pendidikan merupakan sasaran empuk bagi modus dan tindakan korupsi di perkotaan Indonesia. Abraham Samat menyebutkan bawa sektor strategis bagi pemberantasan korupsi adalah sektor ketahanan pangan, energi/pertambangan, hukum, dan infrastruktur yang kesemuanya terkait dengan masalah tata ruang dan wilayah perkotaan.

Jika indeks persepsi korupsi dimasukkan pada penilaian kota nyaman huni, maka kota Denpasar akan menjadi lebih baik dibanding kota Yogyakarta. Yang cukup memprihatinkan adalah kota Surabaya, dimana kota ini memiliki nilai kenyamanan tinggi namun IPK-nya sangat rendah. Sehingga bisa dinilai bahwa kota Surabaya dan Makasar kurang nyaman huni, namun sangat nyaman bagi para koruptor. Ironis, Jakarta dengan Indeks Nyaman Huni 50,07% merupakan kota yang kurang nyaman huni menurut IAP (2010), namun ibukota Jakarta dengan IPK 4,43 adalah kota yang paling nyaman bagi para koruptor, karena hampir 80% uang beredar ada di kota pusat kekuasaan DKI Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek).

Untuk melakukan evaluasi kota kedepan, maka IAP perlu melihat kembali bagaimana cara menilai kota yang nyaman huni. Seperti kota Melbourne di Australia sering berhasil sebagai pemenang penghargaan kota nyaman huni di seluruh dunia, dimana Australia memiliki CPI 8,8. Sehingga penilaian kota-kota di Indonesia dimasa datang tidak hanya didasarkan oleh faktor ekonomi dan fisik yang telah ditetapkan semata, namun penilaian perlu berkembang dan memasukkan aspek IPK agar kenyamanan kota adalah ketidaknyamanan bagi para koruptor. Sebagai alternatif untuk mengatasi masalah ini, seorang rekan menyarankan, pada ruang terbuka hijau kota dan taman kota (minimum 30% dari wilayah kota berdasar UU No. 26 Tahun 2007), sangat perlu didirikan bangunan PENJARA yang TRANSPARAN (dinding kaca/fiberglass) untuk para koruptor (terutama koruptor kakap) agar mereka dengan mudah terlihat oleh masyarakat umum di pusat kota. Pertanyaan terakhir, malukan para koruptor dan keluarga serta handai taulan para penjenguk koruptor itu jika terlihat setiap hari oleh publik? Kita perlu yakin bahwa kita masih punya malu.

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: